Jurnalis Senior, Wahyudi El Panggabean: Wartawan Jangan Mau Dihina, Gunakan Teknik Komunikasi Berkelas untuk Memukul Balik

Riau186 Dilihat

Pekanbaru, BanuaMinang.co.id Jurnalis senior sekaligus Direktur Utama Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC), Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP., C.PCT, meminta para jurnalis Indonesia untuk mengubah paradigma dalam menghadapi intimidasi verbal.

 

Penulis produktif buku-buku jurnalistik nasional ini mengimbau para insan pers untuk tidak bersikap cengeng atau sekadar memanfaatkan ruang redaksi untuk meratapi pelecehan profesi.

 

Hal tersebut disampaikan Wahyudi di hadapan sejumlah Pemimpin Redaksi Media Berita di kediamannya, Pekanbaru, pada Ahad (30/8) sore.

 

Wahyudi menegaskan, menuliskan berita tentang penghinaan yang dialami wartawan justru berisiko menjadi bahan cemoohan publik jika tidak dibarengi dengan ketegasan taktis di lapangan.

 

“Jangan sedikit-sedikit melapor bahwa Anda dilecehkan, kemudian memberitakan pelecehan dan penghinaan itu pula di media sebagai bahan cemooh orang. Anda punya hak untuk membela diri dan menyerang balik dengan komunikasi yang cerdas tetapi mematikan,” ujar

 

Menurut Wahyudi, insiden arogansi narasumber, seperti kasus Politisi Benny K. Harman beberapa waktu lalu hingga perselisihan Hotman Paris Hutapea yang sempat melontarkan kalimat merendahkan “Lu punya otak enggak?” kepada jurnalis, seharusnya menjadi momentum emas.

 

Alih-alih terpancing emosi atau langsung mundur, jurnalis dituntut memiliki kesiapan mental dan ketajaman retorika verbal profesional untuk langsung membalikkan keadaan di lokasi kejadian (turning the tables).

 

Penulis buku “Strategi Wartawan Menembus Narasumber” dan “Untukmu yang Ingin Menjadi Wartawan Sukses” ini memberikan contoh konkret taktik komunikasi berkelas (witty comeback) untuk membungkam ucapan arogan semacam itu secara instan.

 

Ketika seorang tokoh bertanya, “Lu punya otak gak?”, wartawan tidak perlu membalas dengan makian. Cukup dijawab dengan tenang namun telak: “Loh, kalau Anda punya otak, jawab dong pertanyaan saya secara elegan!”

 

“Pembalikan logika ini dinilai jauh lebih mematikan karena langsung menelanjangi kepanikan narasumber di depan publik,” tegas Wahyudi.

 

Lebih lanjut, jurnalis senior yang telah menekuni profesi ini sejak tahun 1985 menjelaskan, narasumber yang mulai menyerang pribadi wartawan (Ad Hominem) sebenarnya merupakan indikasi bahwa mereka sedang terdesak dan kehabisan argumen substansial.

 

Wartawan profesional jelasnya, harus menyadari bahwa mereka dilindungi oleh undang-undang. Sehingga posisi tawar mereka dalam menguji akuntabilitas publik sangatlah tinggi.

 

“Menguasai teknik komunikasi tingkat tinggi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan senjata utama untuk menjaga marwah profesi jurnalisme,” tegas Wahyudi.

 

Mengakhiri pernyataannya, Wahyudi mengajak seluruh jurnalis dan pemimpin redaksi untuk memperkuat literasi komunikasi taktis dan psikologi massa di ruang redaksi.

 

Menghadapi narasumber berkarakter keras, katanya tidak bisa lagi dihadapi dengan mentalitas korban (victim mentality). Melainkan dengan kecerdasan intelektual yang mampu mendikte situasi.

 

Hanya dengan komunikasi yang berkelas, profesi wartawan akan dihormati secara terhormat. “Bukan ditakuti karena ancaman laporan semata,” katanya.