Oleh : Fajrul Huda
Banuaminang.co.Id – Kita nyaris memenjarakan agama dalam ruang-ruang sempit yang individualistik. Agama direduksi menjadi ritual mahdhah yang steril dari problem sosial. Kesalehan diukur dari panjangnya doa, bukan dari luasnya kepedulian. Masjid penuh, tetapi hati sering kosong dari solidaritas. Puasa pun kerap berhenti pada lapar dan dahaga, bukan pada kesadaran.
Di sinilah makna membongkar menjadi penting.
Membongkar bukan berarti meruntuhkan ajaran, melainkan mengkritik cara kita memahaminya. Membongkar adalah keberanian untuk bertanya: mengapa ibadah yang seharusnya melahirkan kepekaan sosial justru sering melahirkan kesalehan yang sunyi dari keberpihakan? Mengapa puasa yang diperintahkan dalam Al-Qur’an untuk melahirkan takwa justru kadang hanya menghasilkan rutinitas?
Puasa bukan sekadar relasi vertikal antara hamba dan Tuhan. Ia adalah latihan ideologis untuk membangun manusia yang sadar bahwa iman selalu diuji dalam realitas sosial. Dalam Al-Qur’an, tujuan puasa adalah la‘allakum tattaqun. Takwa bukan sekadar rasa takut ataupun ketaatan, melainkan kesadaran aktif yang memandu tindakan.
Artinya, iman tidak pernah selesai hanya dengan pengakuan. Ia harus dibuktikan. Dan puasa adalah mekanisme ujian itu.
Ketika seseorang berpuasa, ia sedang belajar menahan diri. Tetapi penahanan diri bukan tujuan akhir. Ia adalah jalan menuju empati. Lapar yang dirasakan bukan sekadar ritual, melainkan pengalaman eksistensial agar kita mengerti mereka yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Jika puasa tidak melahirkan kepedulian, maka ia kehilangan dimensi revolusionernya.
Di sinilah menyusun ulang pemahaman beragama menjadi keharusan.
Beragama bukan hanya tentang kesucian pribadi, tetapi tentang tanggung jawab sosial. Persaudaraan dan keimanan adalah dua hal yang saling menguji. Tidak ada iman yang utuh tanpa solidaritas. Tidak ada takwa yang sempurna tanpa kepedulian. Puasa menguji apakah iman itu hanya wacana, atau benar-benar menjelma menjadi tindakan.
Menyusun ulang berarti mengembalikan agama pada daya transformasinya. Menggeser pusat kesadaran dari “aku yang taat” menjadi “kita yang peduli”. Dari religiusitas simbolik menuju religiusitas substantif. Dari ritual yang privat menuju etika yang publik.
Puasa, dengan demikian, adalah proyek pembebasan. Ia membebaskan manusia dari egoisme, dari kerakusan, dari individualisme spiritual. Ia membangun kesadaran bahwa iman dan keadilan sosial tidak boleh dipisahkan. Bahwa menyempurnakan puasa berarti menyempurnakan takwa, dan menyempurnakan takwa berarti menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan sosial.
Jika puasa hanya berhenti pada ibadah mahdhah, maka kita gagal menangkap ruhnya. Tetapi jika puasa melahirkan keberpihakan pada yang lemah, memperkuat persaudaraan, dan menghidupkan kepedulian, maka di situlah iman menemukan kesempurnaannya.
Karena itu, tulisan ini bukan provokasi kosong. Ia adalah seruan pembaruan.
Puasa bukan sekadar kewajiban tahunan. Ia adalah ruang kritik diri, ruang pembongkaran kesalehan yang semu, dan ruang penyusunan ulang cara kita beragama, agar iman tidak hanya diyakini, tetapi dihidupi dan diperjuangkan.
Fattaqullaha mastatha’tum
Billahi Fie sabililhaq




