Hidayah: Cahaya yang Dicari atau Diberikan?

Edisi Ramadhan 9

Kultum183 Dilihat

Oleh: Ardinal Bandaro Putiah

Tidak semua manusia yang melihat kebenaran mampu menerimanya. Tidak semua yang mendengar nasihat mampu berubah karenanya. Tidak semua yang hidup dekat agama otomatis hidup dalam cahaya.

Di sinilah hidayah menjadi misteri yang sering disederhanakan.

Sebagian manusia memahaminya sebagai takdir mutlak: diberikan atau tidak diberikan. Sebagian lain memahaminya sebagai hasil usaha sepenuhnya: dicari atau hilang.

Padahal dalam Al-Qur’an, hidayah memiliki dimensi yang jauh lebih dalam.

Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. (Al-Qashash: 56)

Ayat ini mengguncang ego manusia.

Karena ia menegaskan sesuatu yang sering sulit diterima:
bahwa hidayah bukan sepenuhnya dalam kuasa manusia.

Namun Al-Qur’an juga menunjukkan sisi lain yang tak kalah penting:

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (Al-‘Ankabut: 69)

Di sini tampak paradoks yang indah.

Hidayah adalah anugerah, namun kesungguhan tetap disyaratkan. Hidayah bukan sekadar hadiah acak.Namun bukan pula hasil mekanis usaha manusia.

Ia adalah perjumpaan.

Perjumpaan antara kehendak Ilahi dan kesiapan jiwa manusia.Karena masalah utama manusia sering bukan kurangnya informasi, tetapi kurangnya kesiapan batin.

Banyak manusia tahu mana yang benar,
tetapi enggan menerimanya.Banyak manusia mengenali kebaikan, tetapi menundanya tanpa batas. Banyak manusia memahami nilai kebenaran, tetapi hatinya menolak tunduk.

Hidayah bukan sekadar persoalan akal.
Ia persoalan hati.

Al-Qur’an menggambarkan kondisi yang tragis:

Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami. (Al-A’raf: 179)

Bukan tidak punya hati. Tetapi hati yang tak berfungsi.

Karena hidayah bukan hanya cahaya yang datang dari luar, tetapi juga kemampuan dari dalam untuk menerimanya.Inilah dimensi yang sering luput dari perenungan manusia.

Bahwa hidayah bukan sekadar ditemukan,
tetapi juga disambut. Karena cahaya tak berguna bagi mata yang memilih tertutup.

Manusia sering menunggu hidayah seperti menunggu keajaiban dramatis. Seolah-olah hidayah harus datang sebagai peristiwa besar yang mengguncang hidup.

Padahal hidayah sering hadir dengan cara yang sunyi.

Dalam kegelisahan kecil.
Dalam kesadaran yang tiba-tiba mengetuk.
Dalam rasa tidak nyaman terhadap dosa.
Dalam dorongan halus untuk berubah.

Hidayah sering bukan kilatan cahaya yang spektakuler. Ia sering berupa bisikan yang lembut. Namun manusia kerap mengabaikan bisikan itu.

Menundanya.
Merasionalkannya.
Membungkamnya dengan kesibukan dunia.

Lalu berkata:

Aku belum dapat hidayah.

Padahal mungkin, yang ditolak bukan cahaya,
tetapi panggilan cahaya. Hidayah bukan semata-mata soal Allah memberi. Ia juga soal manusia membuka diri.

Bukan karena Allah membutuhkan kesiapan manusia, tetapi karena hati yang tertutup tak mampu menampung cahaya.

Pada akhirnya, hidayah adalah karunia yang misterius sekaligus rasional. Misterius karena ia milik Allah. Rasional karena hati manusia tetap memiliki peran. Dan mungkin, pertanyaan terpenting bukanlah:

Sudahkah hidayah datang?

Tetapi:

Sudahkah hati siap menerima?

Karena cahaya tidak pernah benar-benar jauh.
Sering kali manusialah yang menjauh.
Mari kita lihat dari fondasi Qur’annya.

Dalam Al-Qur’an, ayat puasa ditutup dengan kalimat yang sangat penting:

agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah: 183)

Puasa bukan sekadar ibadah fisik.
Ia adalah proses pembentukan kesadaran.
Dan takwa adalah buah dari hidayah yang hidup di dalam jiwa.

Hidayah tanpa disiplin batin → rapuh.
Puasa tanpa hidayah → ritual kosong.

Puasa sesungguhnya adalah latihan respons terhadap hidayah. Karena sepanjang hari, manusia menghadapi sesuatu yang sangat mendasar:

Ia mampu makan → tetapi menahan diri.
Ia mampu minum → tetapi menolak dorongan.
Ia mampu melampiaskan emosi → tetapi mengendalikan diri.

Mengapa?

Karena ada kesadaran tak terlihat yang bekerja:

Allah melihat.

Itulah bentuk hidayah yang paling praktis.

Bukan konsep abstrak. Tetapi kesadaran hidup yang mengendalikan perilaku bahkan saat tidak ada manusia yang mengawasi. Di sinilah hubungan hidayah dan puasa menjadi sangat dalam.

Puasa adalah bukti bahwa hidayah telah memasuki wilayah batin, bukan sekadar pengetahuan akal. Sebab orang yang berpuasa secara hakiki bukanlah orang yang sekadar menahan lapar, tetapi orang yang:

Menahan amarah.
Menahan lisan.
Menahan ego.
Menahan dorongan-dorongan destruktif.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.

Mengapa bisa begitu?

Karena hidayah belum sepenuhnya menguasai kesadaran batin.

Tubuhnya berpuasa.
Nafsunya tetap liar.

Secara filosofis, puasa adalah arena verifikasi hidayah. Apakah kesadaran tentang Allah benar-benar hidup? Ataukah hanya hidup saat terlihat orang lain? Puasa memaksa manusia hidup dalam pengawasan Ilahi selama berjam-jam tanpa jeda.

Dan ini bukan perkara kecil.

Karena banyak manusia tampak baik di ruang sosial, tetapi rapuh di ruang sunyi.

Puasa menguji ruang sunyi itu.

Di situlah hidayah menjadi nyata.

Hidayah bukan lagi sekadar “mengetahui yang benar”, tetapi “mampu tunduk pada kebenaran meski dorongan biologis menekan kuat.”

Lebih dalam lagi.

Puasa juga merupakan jalan menuju hidayah yang lebih tinggi. Karena puasa melemahkan sesuatu yang sering menjadi penghalang terbesar cahaya:

Dominasi nafsu.

Saat dorongan fisik dilemahkan, kesadaran spiritual menguat. Saat kebisingan keinginan ditenangkan, suara nurani menjadi lebih terdengar. Itulah sebabnya Ramadhan disebut bulan Al-Qur’an:

Bulan Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. (Al-Baqarah: 185)

Perhatikan keterkaitannya.

Ramadhan → Puasa → Al-Qur’an → Hidayah.

Ini bukan kebetulan struktural.

Puasa menciptakan kondisi psikologis-spiritual yang membuat hati lebih siap menerima cahaya.

Nafsu ditenangkan.
Kesadaran diasah.
Hati dilembutkan.

Sehingga hidayah lebih mudah berakar. Pada akhirnya, puasa bukan sekadar kewajiban ritual. Ia adalah proses penyelarasan jiwa dengan hidayah. Puasa adalah latihan hidup dalam cahaya.

Dan mungkin, keberhasilan puasa bukan hanya diukur dari seberapa lama menahan lapar, tetapi seberapa dalam kesadaran tentang Allah menetap dalam jiwa.

Karena di situlah hidayah menemukan rumahnya.

Wallahu’alam