Bapisah Bukannyo Bacarai: Perpisahan Mahasiswa KKN Universitas Andalas dengan Nagari Pasia Laweh Lewat Pentas Seni dan Tari Pasambahan

Agam161 Dilihat

Palupuh, BanuaMinang.co.id Masa pengabdian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler I Universitas Andalas di Nagari Pasia Laweh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, resmi berakhir pada awal Februari 2026. Perpisahan tersebut ditandai dengan pentas seni dan penampilan Tari Pasambahan sebagai simbol penghormatan dan rasa terima kasih kepada masyarakat.

 

Kegiatan KKN berlangsung sejak 2 Januari hingga 7 Februari 2026 di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan, Muhammad Iqbal Abdi Lubis, S.TP, M.P. Sebanyak 21 mahasiswa menjalankan program di tiap jorong dengan pendekatan kolaboratif, meskipun dalam keterbatasan waktu dan sumber daya.

 

Prosesi penutupan dihadiri oleh perangkat nagari, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga. Dalam suasana penuh kehangatan, masyarakat menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa selama masa pengabdian.

 

Sekretaris Nagari Pasia Laweh, Herrynaldo, turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh mahasiswa KKN atas dedikasi dan kerja nyata yang telah diberikan. Pada kesempatan tersebut, ia juga menyerahkan plakat dan piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah nagari.

 

“Selama lebih dari satu bulan, mahasiswa KKN telah menjadi bagian dari keluarga kami. Program-program yang dijalankan mencakup bidang sosial, pendidikan, serta pembangunan nagari,” ujarnya.

 

Ia berharap hubungan silaturahmi antara mahasiswa dan masyarakat Pasia Laweh tetap terjaga, meskipun masa KKN telah berakhir.

 

Program Utama Sistem Informasi dan Pemetaan Nagari

 

Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa mengembangkan Program Utama Sistem Informasi dan Pemetaan Nagari yang meliputi pengelolaan website nagari, pemetaan pariwisata, pemetaan kebudayaan, serta pemetaan kebencanaan.

Program ini menjadi dasar perencanaan dan pelaksanaan seluruh kegiatan turunan.

 

Rangkaian Program Kerja

 

Berdasarkan hasil pemetaan, mahasiswa melaksanakan 12 program turunan, yaitu:

 

1. Bidang Kesehatan, melalui pemeriksaan door to door, pendampingan posyandu, serta edukasi PHBS, SIGIBER, dan kesehatan reproduksi.

 

2. Pertanian dan Peternakan, melalui pembuatan kompos, pestisida nabati, amoniasi jerami, dan briket.

 

3. Pemberdayaan Ekonomi dan Literasi Digital, melalui pendataan UMKM, edukasi pemasaran digital, dan literasi menabung anak.

 

4. Kebudayaan, Sejarah, dan Literasi Lokal, melalui pendataan rumah gadang, sosialisasi sejarah, dan penyusunan buku Nagari Yang Kami Pelajari.

 

5. Kebencanaan, melalui edukasi mitigasi, pendampingan pascabencana, dan pemetaan wilayah rawan.

 

6. Pengembangan Pariwisata, melalui pendataan, dokumentasi, dan publikasi potensi wisata.

 

7. Edukasi Anak (Program Psikologi “Kenali Emosimu”), melalui edukasi emosi, tabung emosi, dan pohon harapan.

 

8. Program Kampuang Rancak, melalui gotong royong, penataan lingkungan, dan pengecatan ruang publik.

 

9. Kegiatan Sosial dan Keagamaan, melalui pengisian Isra’ Mi’raj dan pendampingan distribusi wakaf Al-Qur’an, serta Aktivasi Musholla.

 

10. Aksi Sosial dan Infrastruktur, melalui pembuatan pegangan jalan lansia, pengecatan jembatan, dan perbaikan fasilitas umum.

 

11. Kebersihan Lingkungan, melalui kegiatan rutin kebersihan dan penataan permukiman.

 

12. Administrasi dan Dokumentasi Nagari, melalui pendataan kegiatan dan dokumentasi lapangan.

 

Seluruh program dijalankan secara terpadu sesuai kebutuhan masyarakat.

 

Dampak dan Makna Perpisahan

 

Seluruh program berhasil dilaksanakan secara optimal berkat kerja tim, pendampingan dosen pembimbing, serta partisipasi aktif masyarakat.

 

Dampak yang dirasakan antara lain meningkatnya kesadaran kesehatan dan kebersihan, menguatnya identitas budaya lokal, bertambahnya kapasitas ekonomi dan literasi digital warga, meningkatnya kesiapsiagaan bencana, lingkungan yang lebih ramah lansia, serta tersusunnya dokumentasi nagari berbasis buku.

 

Bagi masyarakat, mahasiswa KKN menjadi mitra dan bagian dari keluarga nagari. Sementara bagi mahasiswa, Pasia Laweh menjadi ruang pembelajaran sosial yang membentuk empati dan tanggung jawab.

 

Melalui pentas seni dan Tari Pasambahan, perpisahan ini menegaskan bahwa hubungan yang terjalin tidak berhenti bersama berakhirnya program. Sejalan dengan falsafah bapisah bukannyo bacarai, kebersamaan tersebut akan terus terjaga dalam silaturahmi ke depan. (Zaky dkk)