Asap Karhutla Pekat Selimuti Rimbo Panjang Kampar, Warga Sesak Napas: Jarak Pandang Cuma 500 Meter

Riau129 Dilihat

Kampar, BanuaMinang.co.id — Kabut asap bukan sekedar soal langit yang kehilangan biru dan Matahari. Ini tentang udara yang kita hirup, kesehatan anak-anak, Orang dewasa, dan para lansia masa depan lingkungan yang kita wariskan sangat berarti.

 

Di wilayah Indonesia terkhusus di wilayah Riau membutuhkan kepedulian kita untuk penanganan Karhutla tersebut. Jangan diduga kuat untuk membakar lahan, jangan ada di pola pikir asap sebagai keadaan yang biasa, dan mari menjaga lingkungan.

 

Kondisi itu dikeluhkan warga setempat, Menilai banyak masyarakat mengalami keluhan terhadap kesehatan yang dialami

 

Menurut Dika, jarak pandang di desanya saat ini hanya sekitar 500 meter. Asap terlihat sangat pekat dan menyelimuti permukiman.

 

“Jarak pandang saat ini hanya sekitar 500 meter. Pekat sekali asapnya,” ujarnya. (7/10/26).

 

Dika menduga asap tersebut bukan berasal dari Riau. Sebab, ia tidak melihat adanya titik api di wilayahnya.

 

“Menurut saya tidak ada titik api karhutla di Riau, tapi ada asap. Berarti ini asap kiriman karhutla di daerah lain,” kata Dika.

 

Di sisi lain, Andika meminta penegakan hukum tidak hanya yang menyasar kepada masyarakat. Afriadi Andika , Andika , meminta aparat juga mengusut perusahaan yang konsesinya mengalami kebakaran.

 

“Kita harus adil melihat kebakaran ini, tanggung jawab konsesi terhadap lahan mereka yang terbakar juga perlu dipertegas,” ujar Andika.

 

Andika menilai perusahaan juga memiliki tanggung jawab menjaga kawasan yang berada dalam izin konsesinya. Ia meminta aparat membuka informasi secara transparan mengenai perusahaan yang bertanggung jawab atas karhutla di propinsi Riau.

 

Ia berharap pemerintah di daerah yang menjadi sumber api bisa bekerja keras memadamkan karhutla, seperti yang dilakukan Tim Satgas Karhutla Riau.

 

“Kalau asap karhutla dari provinsi lain, mestinya pemerintah di sana harus bekerja keras memadamkan api, seperti yang dilakukan tim Satgas Karhutla Riau. Kita di Riau tidak ada karhutla, tapi malah kena imbas karhutla dari daerah lain,” tuturnya.

 

Tak hanya berdampak pada kesehatan, kabut asap juga mulai memukul perekonomian warga.

 

“Asap ini tidak hanya berdampak kepada kesehatan, tapi juga ekonomi. Soalnya kita akan terbatas keluar, otomatis berdampak ke ekonomi. Jual beli juga akan bisa menurun lantaran orang-orang jadi takut keluar,” keluh Dika.

 

Ia mengaku telah mengecek kualitas udara melalui aplikasi, dan hasilnya menunjukkan kategori sangat tidak sehat.

 

Inilah ujian sebenarnya bagi Kapolda Riau yang baru menjabat berani tidak membongkar sampai ke akar?

 

Namun, prinsip praduga tak bersalah juga tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mengabaikan keresahan Masyarakat Riau.

Masyarakat Riau sangat berhak untuk mendapatkan jawaban dalam penanganan Karhutla.

 

Masyarakat membutuhkan penegakan hukum yang berani menyentuh siapa pun yang berada di belakang layar.

 

Sebab masyarakat tidak sedang menunggu janji baru. Masyarakat sedang menunggu bukti.

 

“Sekarang ini saya cek di aplikasi, kualitas udara sangat tidak sehat,” tutupnya. (aa)