Apakah Betul Sarik Laweh Nagari Nan Limo Tertimpa Bencana Alam 2025?

Agam395 Dilihat

Palupuh, BanuaMinang.co.id Berdasarkan data yang diperoleh oleh BanuaMinang.co.id tentang korban bencana di Nagari Nan Limo, hanya satu nama yang tidak masuk dalam SK terbaru, yaitunya atas nama M. Sarudin yang beralamat di Patapaian, jorong Paninggiran Ateh. (Terkait ini, nantinya BanuaMinang.co.id akan membuat berita tersendiri).

 

Sedangkan di Jorong Paninggiran Baruah ada 6 nama yaitunya: Abdul Azri, Amril, Muhammad Dasar, Syafrizal, Rina Zaramis dan Yommardi.

 

Di jorong Sungai Baluka hanya tiga nama, yaitunya Rahmad Dani, Bahtiar dan Gusmiati

 

Di jorong Kuran-Kuran hanya satu nama yaitunya Februardi.

 

Sedangkan yang paling banyak yaitunya di jorong Sarik Laweh sebanyak 20 nama/KK yaitunya: A.Imran, Akmal, Darwin, Deni Ruswanto, Fitri Endi Handra, Hendra Yaser, Ilyas, Janeldi Finera, M. Syafei, Mudarisman, Nursima, Rahmad Surya, Supriadi Aulia, Syahrial, Syahrul Efendi, Syamhiar, Syamsidar, Syarifuddin, Taherman dan Yasriwati.

 

Sebelumnya banyak warga yang bertanya kepada BanuaMinang.co.id. Pada umumnya masyarakat Nagari Nan Limo Mempertanyakan tentang adanya satu rumah yang memiliki dua KK namun kedua KK tersebut mendapat bantuan, baik di jorong Paninggiran Baruah maupun di jorong Sarik Laweh.

 

“Padohal rumahnyo indak ado kanai bencana, dapek lo bantuan. Iyo lasuah lo, kalau dapek bantuan rumah tantunyo jadi 3 rumahnyo lai,” ungkap Bujang.

 

“Sajak bilo, Sarik Laweh Kanai galodo? Sa-tau awak nan runtuah di Patapaian, Bania Laweh, Kelok Jariang jo Pincuran Tujuah. Nan Sarik Laweh…Iyo indak mandanga Wak doh,” Tutup Bujang warga Nan Limo.

 

Kalau masalah terdampak, jangankan kita yang menetap di Palupuh, orang yang melintas di jalinsum Bukittinggi-Medan di saat bencana juga terdampak bahkan sampai juga terancam. Karena ada satu unit kendaraan yang hampir tertimbun di Pincuran Tujuah, syukur saja pengendaranya selamat (tidak meninggal dunia), ungkap SiIh.

 

Sedangkan salah seorang warga dari Sarik Laweh, Us*** saat dimintai keterangannya, menyatakan memang ada retak di kaki tower listrik, tapi belum terjadi bencana longsor, ungkapnya.

 

“Kenapa hanya rumah yang ada di seberang masjid yang hanya terdata dapat bantuan, apakah apabila longsor terjadi perumahan yang sebaris dari masjid (sebelah kiri jalinsum Bukittinggi-Medan/Red) tidak akan terkena galodo? Kenapa di nagari lain ada penambahan data di Nan Limo tidak ada penambahan data korban? Sedangkan di Bania Laweh Kelok Jariang masih ada nama yang belum dimasukkan kedata seperti Mak Imuih, Pak Raflis, Si Net dan begitupun di sarik Laweh. Padahal Mak Imuih waktu bencana juga mengungsi, kalau mengungsi dijadikan alasan untuk dapat bantuan,” lanjut Us***.

 

Saya sudah mempertanyakan hal ini kepada pemerintah nagari Nan Limo, apakah walijorong akan memecah-mecah warga? Cuma jawab pemerintah nagari “Yo ba,a lai data alah masuak”. Kami berharap kepada Bupati Agam untuk memanggil dan mempertanyakan kepada walijorong dan walinagari. Apakah data ini akurat dan berani mempertanggungjawabkan dihadapan masyarakat dan Tuhan. Tutup Us***.

 

Tanggapan masyarakat melalui WhatsApp kepada BanuaMinang.co.id

Berikut tangkapan layar dari masyarakat kepada redaksi BanuaMinang.co.id yang sengaja kami rahasiakan nama dan identitasnya.

 

Terkait hal tersebut, BanuaMinang.co.id meminta konfirmasi kepada Tri Sakti Walinagari Nan Limo, melalui pesan di media WhatsApp (14/3/26).

 

Berikut permintaan konfirmasi dari BanuaMinang.co.id

1. Berapakah jumlah KK di jorong Sarik Laweh?

 

2. Apakah betul Sarik Laweh terkena bencana hidrometeorologi ditahun 2025? Mohon jelaskan!

 

3. Kenapa yang terdata sebagai korban Hidrometeorologi hanya 20 KK dan hanya rumah yang ada di wilayah seberang jalan dari arah mesjid? Kenapa yang sederetan masjid tidak terdata? Mohon dijelaskan!

 

4. Seandainya diduga adanya retakan tanah dibukit seberang masjid, apakah sudah dipastikan bencana alam berupa longsor tersebut tidak akan sampai ke jalan lintas Sumatera Bukittinggi-medan? Apakah ini sudah dibuktikan (penjelasannya dan keterangannya oleh ahli yang berkompeten? Mohon dijelaskan!

 

5. Seandainya ada bantuan Huntap untuk ke 20 KK tersebut oleh pemerintah, dimanakah lokasi untuk pembangunan Huntap tersebut, mohon jelaskan! Dan apakah ini tidak akan berdampak kecemburuan sosial ditengah masyarakat khususnya Sarik Laweh? Mohon jelaskan!

 

6. Beredar informasi bahwasanya nama yang terdaftar dalam penerima bantuan tersebut, diduga ada yang satu rumah namun dua KK, dimana kedua KK tersebut penerima bantuan tersebut. Mohon dijelaskan!

 

Jawaban dari Walinagari Nan Limo

1. Jumlah KK SARIK LAWEH 68 KK berdasarkan data kami

 

2. Benar , sarik laweh terkena brnaca akhir tahun 2025

 

3. Itu berdasarkan data real yg ada dan sudah klarifikasi berulang2

 

4. Tidak ada bencana yg pasti, tapi terjadinya pergeseran tanah di bawah tiang sutet telah menyebabkan kekhawatiran dari masyarakat

 

4. Tentang huntap sudah ada kriteria yg sangat jelas oleh bpbd. Kecemburuan sosial tidak perlu terjadi karena Nagari bekerja sesuai atuean yg berlaku

 

5. Adanya 2 Kk dalam satu rumah adalah realita dan berapa buah dia yg berhak yg dapat huntap kami aerahkan saja sama aturan yg berlaku

 

Demikian, semoga bencana ini bisa menjadi renungan untuk merajut kebersamaan kito di nagari …

Wassalam

 

Demikianlah jawaban dari Tri Sakti Walinagari Nan Limo.

 

BanuaMinang.co.id akan kembali mengabarkan pemberitaan terkait bantuan bencana alam ini, karena ada beberapa pihak yang belum dimintai keterangan dan konfirmasinya.

 

Bagi masyarakat yang ingin memberikan informasi dan tanggapan terkait bencana alam khususnya di kecamatan Palupuh, kami portal berita online insyaallah akan memberikan ruang, dimana informasi tersebut tentunya akan kami verifikasi keabsahan informasi yang kami terima dan konfirmasikan kepada yang bersangkutan. Sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik. Silahkan menghubungi redaksi BanuaMinang.co.id.

 

(iing chaiang)

Keterangan foto:

Jembatan kembar adalah salah satu ikon penanda bahwasanya akan memasuki jorong Sarik Laweh. Dimana jembatan ini adalah jembatan kembar pertama dari arah Bukittinggi menuju Medan.