Edisi Ramadhan 10
Taubat: Kembali Tanpa Harus Sempurna
Oleh: Ardinal Bandaro Putiah
Ada satu ilusi yang sering menjauhkan manusia dari Allah. Perasaan harus menjadi baik dulu, baru kembali.
Seolah-olah taubat menunggu kesempurnaan. Seolah-olah manusia harus membersihkan dirinya sepenuhnya sebelum layak mengetuk pintu Tuhan.
Padahal dalam Al-Qur’an, taubat justru adalah jalan menuju perbaikan, bukan hadiah bagi mereka yang sudah sempurna.
Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.(Az-Zumar: 53)
Perhatikan cara Allah memanggil.
Bukan: wahai orang-orang saleh.
Bukan: wahai yang tanpa dosa.
Tetapi:
wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas.
Ini ayat yang menghancurkan keputusasaan.
Karena dosa terbesar manusia sering kali bukan kesalahan yang ia lakukan, tetapi rasa putus asa yang membuatnya berhenti kembali.
Taubat bukan tentang rekam jejak masa lalu.
Ia tentang arah masa depan. Manusia adalah makhluk yang tak luput dari salah. Jatuh bukan penyimpangan dari kemanusiaan. Keliru bukan kecelakaan eksistensial. Dosa bukan anomali dalam kehidupan manusia.
Yang berbahaya bukan jatuh.
Yang berbahaya adalah menetap dalam kejatuhan.
Taubat adalah gerak jiwa. Ia bukan sekadar ucapan istighfar, tetapi keberanian untuk kembali.
Kembali kepada Allah.
Kembali kepada kesadaran.
Kembali kepada arah yang benar.
Allah bahkan menegaskan dengan kelembutan yang menggugah:
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. (Al-Baqarah: 222)
Bukan sekadar menerima.
Mencintai.
Ini adalah dimensi yang luar biasa.
Karena manusia sering membayangkan Tuhan sebagai hakim yang dingin, menunggu kesalahan untuk dihukum. Padahal Al-Qur’an memperkenalkan Allah sebagai Rabb yang mencintai kembalinya hamba.
Taubat bukan momen memalukan. Ia adalah peristiwa yang dicintai Allah. Namun manusia sering terjebak dalam perangkap psikologis yang halus.
Aku terlalu banyak salah.
Aku sudah terlalu jauh.
Aku tidak pantas lagi.
Kalimat-kalimat ini terdengar seperti kerendahan hati, tetapi sering kali merupakan bentuk keputusasaan yang justru menjauhkan dari rahmat Allah.
Karena rahmat Allah tidak mengenal batas yang dibayangkan manusia.
Taubat bukan menunggu manusia bersih.
Taubat adalah proses pembersihan itu sendiri.
Ia adalah pengakuan tanpa pembenaran. Kesadaran tanpa pengingkaran. Penyesalan tanpa keputusasaan.
Taubat bukan berarti manusia tak akan jatuh lagi. Ia berarti manusia tak lagi nyaman dengan kejatuhan. Dan ini perbedaan yang sangat menentukan. Al-Qur’an menunjukkan sifat Allah yang menenangkan jiwa:
Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya. (Asy-Syura: 25)
Menerima.
Berulang kali.
Tanpa lelah.
Tanpa jenuh.
Selama manusia mau kembali.
Taubat adalah harapan yang tak pernah ditutup. Ia memungkinkan manusia memulai ulang tanpa harus menghapus masa lalu. Memperbaiki arah tanpa harus menjadi sempurna seketika. Mendekat tanpa harus menunggu menjadi suci sepenuhnya.
Karena taubat bukan milik manusia tanpa dosa.
Taubat adalah milik manusia.
Dan mungkin, keindahan terbesar taubat bukan pada terhapusnya dosa, tetapi pada terbukanya kembali hubungan antara manusia dan Rabb-nya.
Bahwa selalu ada jalan pulang.
Selalu ada ruang kembali.
Selalu ada harapan baru.
Taubat menjaga manusia dari satu kehancuran paling sunyi:
putus asa terhadap dirinya sendiri.
Wallahu’alam



