DILEMA BERBUKA PUASA : antara melipat gandakan konsumsi atau menyempurnakan pahala.

Kultum108 Dilihat

Oleh : Fajrul Huda


‎Banuaminang.co.id– Ramadhan adalah madrasah pengendalian diri. Namun ironi sosial justru muncul ketika azan Magrib berkumandang, meja-meja dipenuhi aneka hidangan, pusat perbelanjaan penuh sesak, dan energi spiritual yang dibangun sejak fajar seolah runtuh dalam satu momentum “balas dendam” konsumsi. Di sinilah dilema itu nyata, apakah berbuka menjadi perayaan nafsu yang ditunda, atau penyempurna makna puasa?

‎Secara ideologis, perilaku konsumerisme saat berbuka adalah kekeliruan dalam memaknai ibadah. Puasa bukan sekadar menunda makan, melainkan mendidik kesadaran untuk menaklukkan dorongan diri. Jika sepanjang hari kita dilatih menahan lapar, tetapi saat berbuka kita justru melipatgandakan konsumsi, maka yang berpindah hanya waktu makannya, bukan kesadarannya. Kita mungkin menahan perut, tetapi belum tentu menundukkan nafsu.

‎Dalam Al-Qur’an, Allah dengan tegas memperingatkan:

Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.
‎(QS. Al-Isra’ [17]: 27)

‎Ayat ini bukan sekadar larangan, melainkan kritik terhadap pola hidup berlebih-lebihan. Mubazir bukan hanya soal membuang makanan, tetapi juga tentang mentalitas beragama yang terjebak pada simbol dan kehilangan substansi. Ketika berbuka berubah menjadi ajang kemewahan, maka puasa kehilangan daya revolusionernya sebagai latihan kepedulian sosial.

‎Hadis qudsi yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari menegaskan:

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

‎Orientasi puasa adalah keimanan, bukan konsumsi. Allah tidak menilai seberapa variatif menu berbuka kita, tetapi seberapa dalam kesadaran takwa yang lahir darinya. Kesempurnaan puasa bukan pada seberapa banyak jenis makanan yang dihidangkan, bukan pada seberapa lezat sajian tersaji, melainkan pada sejauh mana kita tetap sederhana setelah seharian ditempa lapar.

‎Konsumerisme Ramadan merupakan produk dari kapitalisme religius, agama direduksi menjadi momentum pasar. Diskon, promo, paket buka bersama, semuanya membentuk budaya baru: Ramadan sebagai musim belanja. Dalam logika ini, lapar hanyalah jeda menuju pesta. Inilah yang harus kita kritik secara progresif. Karena jika puasa hanya berakhir pada perut yang kenyang dan meja yang mewah, maka ia gagal menjadi instrumen transformasi sosial.

‎Puasa seharusnya melahirkan empati struktural, merasakan derita fakir, membangun solidaritas, memperkuat persaudaraan. Namun konsumerisme justru memperlebar jarak sosial: sebagian berbuka dengan kelimpahan, sebagian lain masih menahan lapar tanpa pilihan. Di titik ini, berbuka menjadi cermin ideologi: apakah ia menjadi ritual pembebasan atau justru reproduksi ketimpangan?

‎Secara revolusioner, kita perlu membongkar paradigma berbuka. Berbuka bukan klimaks “makan”, tetapi simbol kemenangan atas diri sendiri. Ia sederhana, cukup, dan penuh syukur. Nabi Muhammad sendiri mencontohkan berbuka dengan yang ringan dan tidak berlebihan, sebuah pesan bahwa ibadah tidak membutuhkan kemewahan.

‎Maka dilema itu harus dijawab dengan sikap tegas: menyempurnakan pahala berarti menjaga ruh pengendalian diri hingga detik terakhir Ramadan. Jangan biarkan azan Magrib menjadi tanda runtuhnya disiplin spiritual. Biarlah ia menjadi tanda bahwa latihan itu berhasil.

‎Ramadan bukan tentang melipatgandakan konsumsi, tetapi melipatgandakan kesadaran. Bukan tentang memuaskan selera, tetapi memerdekakan jiwa. Dan hanya dengan itulah puasa benar-benar menjadi jalan menuju takwa, bukan sekadar jeda sebelum makan malam.

‎Fattaqullaha mastatha’tum
‎Billahi fie sabililhaq