Warga Desak DLH Konut Cabut Ijin Lingkungan PT LAM dan PT TPI – BANUAMINANG.CO.ID

Wanggudu-Sultra, Banuaminang.co.id ~~ Akibat dari aktivitas perusahaan yang diduga telah menyebabkan pencemaran pada sumber mata air yang secara drastis menimbulkan perubahan warna menjadi kemerahan, yang mana diketahui bahwa, perubahan warna air sebelumnya tidak pernah terjadi pada aliran sungai Emapu yang ada di wilayah Desa Lamondowo, Kecamatan Andowia, Kabupaten Konawe Utara (Konut).

 

Merasa tidak nyaman dengan pencemaran bak air sebagai salah satu sumber kehidupan warga, aliansi masyarakat Kecamatan Andowia melakukan aksi demonstrasi di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Konut.

 

Saat melakukan orasi, Kordinator Lapangan (Korlap) Juliaddin mengatakan, pastinya akan terjadi banjir kiriman yang dimana banjir tersebut bercampur dengan material lumpur yang dinilai dapat mengancam kesehatan, maupun keselamatan masyarakat.

 

Setelah dilakukan investigasi di wilayah blok Mandiodo yang disinyalir tempat tersebut adalah asal sumber pencemaran yang dimaksud.

 

“Alhasil. Team investigasi dari lembaga bersama dengan masyarakat Desa Lamondowo, menemukan puluhan alat berat berbagai jenis sedang melakukan penggalian ore nikel yang diduga dari aktivitas itulah yang menjadi penyebab tercemarnya sumber mata air bersih yang ada di Desa Lamondowo,” terang Juliaddin saat menyampaikan orasi ilmiahnya di kantor DLH Konut.

 

Tidak hanya itu, ia juga membeberkan saat melakukan investigasi. Salah satu karyawan setempat menyebutkan bahwa perusahaan yang melakukan aktivitas penambangan nikel tersebut adalah, PT Trimega Pasifik Indonesia (TPI) yang merupakan salah satu kontraktor PT Lawu Agung Minning (LAM) yang diketahui selama ini tengah melakukan aktivitas pertambangan nikel diwilyah konsesi PT Antam blok Mandiodo.

 

Lanjutnya, ia mendesak DLH Kabupaten Konut untuk segera mengeluarkan rekomendasi pencabutan ijin lingkungan PT LAM dan PT TPI.

 

“Mendesak DLH Konut untuk segera memberhentikan aktivitas PT LAM dan PT TPI,” tegasnya. Selasa (8/3).

 

Sementara itu, Kepala Dinas DLH Konut Rahmatullah menjelaskan, laporan yang mereka terima dari masyarakat pencemaran itu dari PT BNN, ternyata setelah staf turun itu bukan dilakukan PT BNN.

 

“Karena mereka sampai di puncak, itu dilakukan oleh PT LAM dan PT TPI dan itu diwilyah IUP Antam, otomatis yang kami Surati pemilik IUP PT Antam bukan PT LAM atau PT TPI ,”katanya saat menerima masa aksi.

 

“Hari ini karna kami punya tahapan-tahapan dalam melaksanakan tugas dalam bekerja, staf saya turun dan melakukan kajian-kajian, hari ini saya sudah menandatangani untuk surat ke PT Antam, bukan PT LAM atau PT TPI karena yang kami tuntut itu pemilik IUP,” tutupnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.