TERTAWA DIBALIK DERITA RAKYAT (Cerita Kelam Tradisi Panjat Pinang Jelang HUT RI)

TERTAWA DIBALIK DERITA RAKYAT (Cerita Kelam Tradisi Panjat Pinang Jelang HUT RI)

JAWA TENGAH, Nasional341 Dilihat

 

Pemalang, Banuaminang.co.id ~~ Tidak terasa besok tanggal 17 Agustus Bangsa Indonesia akan merayakan Hari Kemerdekaan yang ke – 77, Tentunya rangkaian sejarah yang begitu panjang sampai akhirnya Soekarno – Mochammad Hatta, membacakan pernyataan Kemerdekaan, tidak akan lepas begitu saja, dalam perjalanan panjang Heroik Rakyat mengusir atau melawan penjajah, dari Bumi Nusantara.

 

Tradisi merayakan hari lahirnya Bangsa Indonesia, ada satu kegiatan hiburan untuk meramaikan acara HUT – RI yaitu ” Panjat Pinang atau istilah lain Penek Pucang ( Jawa ), dimana kegiatan tersebut guna memeriahkan hari terbebasnya kita dari Belenggu Penjajahan.

 

Panjat pinang yabg selama ini kita kenal adalah, sebuah perlombaan yang di gelar di tengah lapangan, atau di atas sungai, dengan Pohon pinang atau pohon Bambu yang sudah diberi polesan oli, supaya licin ketika di panjat, untuk memperebutkan berbagai macam hadiah, yang di gantung dipuncak atau paling atas, dari sebatang pohon pinang atau bambu, yang ditancapkan, cukup dalam batang pohon, untuk kemudian diberi penguat dari tali, yang sebagai penahan, agar pohon pinang tidak roboh, kenapa diadakan di tengah lapangan atau diatas sungai ? Hal ini dilakukan sebagai pengaman, peserta lomba agar jika jatuh, tidak fatal cidera.

 

Menurut Hamdi Akhsan, penulis sejarah indonesia.Panjat pinang yang sekarang, selalu memeriahkan acara hari kemerdekaan, ada cerita kelam dibalik kemeriahan lomba panjat pinang ini.

 

Sebagian orang menilai jika lomba panjat pinang merupakan, simbol dari kerja sama antar tim, atau kelompok, dimana ada salin pembagian tugas, misal yang bertubuh besar, ditempatkan pada posisi paling bawah, dimana biasanya panjat pinang satu tim kelompok terdiri dari 4 sampai 5 orang setiap regunya, tergantung dari pada ketinggian batang pohon pinangnya, rata – rata ketinggian batang antara 5 sampai 6 meter.

 

Kemudian bagi peserta lomba yang bertubuh sedang akan menempati pijakan kedua, diatas peserta bertubuh besar, kemudian disusul sampai pada peserta yang memanjat pada posisi puncak, ditempatkan orang yang bertubuh tinggi, agak kurus atau jangkung.

 

Kerja sama tim mutlak diperlukan, guna meraih kemenangan hadiah, sampai meraih memanjat ke atas, meraih berbagai hadiah diatas batang pinang, hadiah berupa sepeada, uang, barang elekronik dan hadiah lainya, melambai lambai diatas puncak batang pinang.

 

Panjat pinang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, saat itu panjat pinang biasa diselenggarakan, diacara hajatan besar, yang dilakukan orang – orang Belanda, seperti acara pernikahan, ulangtahun, serah terima jabatan, dan sebagainya, saat itu peserta olah raga yang agak eksrim ini, pesertanya orang – orang Pribumi Indonesia.

 

Warga Pribumi yang hidup dalam kesengsaraan dan penderitaan akibat penjajahan, harus salin injak menginjak, tubuh dan kepala kawannya, hanya demi merebutkan berbagai hadiah yang digantung, diatas puncak batang pohon pinang, yang sudah dilumuri Bahan pelicin, Sementara orang – orang Belanda duduk makan roti dan minum bir, tertawa terbahak – bahak, menyaksikan orang – orang Pribumi, salin injak kepala untuk memanjat, berebut hadiah yang digantung.

 

Penduduk pribumi dengan susah payah, berebut bahan Makanan dan pakaian.Dimana saat itu kedua bahan Pangan dan sandang merupakan barang yang sangat mewah, tentu saja mereka tidak mudah, untuk mengambil hadiah tersebut.karena batang pinang sengaja diberi pelumnas, sehingga menjadi licin, Belanda sengaja agar orang pribumi kesulitan mengambil hadiahnya.

 

Tradisi hiburan Pucang atau panjat pinang selalu ada, setiap kali merayakan hari kemerdekaan, mungkin kemeriahan lomba ini, melebihi kemeriahan upacara bendera, yang diadakan untuk memperingati dan menghargai, jasa dan pengorbanan para pejuang, pendiri Bangsa.

 

Apakah kemudian masih pantas, untuk mengikuti atau menyelenggarakan tradisi panjat pinang? Sebuah tradisi yang dibuat oleh Penjajah, mentertawakan dan menghinakan anak Bangsa ? Tradisi yang kembali membuka luka lama, tentang penderitaan Rakyat Indonesia.

 

Ragil -74.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *